Pernah nggak kamu lagi capek-capeknya pulang kerja, eh tiba-tiba ada motor nyalip tanpa sein sampai hampir nyenggol? Atau lagi di rumah, kerjaan numpuk, terus ada hal sepele yang bikin darah rasanya langsung naik ke ubun-ubun? Rasanya pengen langsung ngomel, banting pintu, atau ngetik balasan pedas di grup WA.
Manusiawi banget kalau kamu bisa marah. Nabi Muhammad ﷺ pun manusia, tapi beliau nggak pernah membiarkan amarah menyetir lisan dan tangannya. Soalnya, marah yang nggak dikendalikan itu ibarat bara api yang dihembuskan setan di dada kita. Sekali meledak, kata-kata yang keluar cuma butuh tiga detik buat diucapkan, tapi penyesalannya bisa bertahun-tahun.
Makanya, sebelum emosimu mengambil alih kemudi, Islam ngajarin kita “rem darurat” lewat doa dan adab yang sangat praktis.
Versi 1: Kalimat Ta’awwudz (Paling Shahih)
Suatu hari, sahabat Sulaiman bin Shurad radhiyallahu ‘anhu sedang duduk bersama Nabi ﷺ. Di dekat mereka, ada dua orang yang saling mencaci maki. Salah satunya marah besar sampai wajahnya merah padam dan urat lehernya menggembung. Melihat itu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau tahu satu kalimat yang kalau diucapkan, amarah orang itu pasti hilang:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
A'uudzu billaahi minasy-syaithaanir-rajiim
Sesederhana itu: ta’awwudz. Kenapa? Karena kompor utama di balik amarah yang meledak-ledak adalah bisikan setan. Saat kamu membaca ta’awwudz dengan sadar, kamu sedang meminta Allah mematikan kompornya langsung dari sumbernya.
Versi 2: Doa Memohon Redanya Amarah Hati
Selain ta’awwudz, ada juga doa yang sering tercantum di buku-buku doa harian dan kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، وَأَذْهِبْ غَيْظَ قَلْبِي، وَأَجِرْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ
Allaahummaghfir lii dzanbii, wa adzhib ghaizha qalbii, wa ajirnii minasy-syaithaan
Kita perlu jujur soal status haditsnya: para ulama ahli hadits seperti Syaikh Al-Albani menilai sanad riwayat khusus ini dha’if (lemah). Namun, sebagian ulama tetap membolehkan membacanya sebagai doa umum karena maknanya baik, yaitu memohon ampunan dosa dan ketenangan hati.
Terus yang Umum Dibaca yang Mana?
Yang paling utama, paling kuat dalilnya, dan langsung diajarkan Nabi ﷺ saat melihat orang marah jelas Versi 1 (ta’awwudz). Pendek, sudah kamu hafal sejak kecil, dan jaminan khasiatnya langsung dari hadits Bukhari-Muslim. Kalau setelah ta’awwudz kamu mau berdoa meminta hati ditenangkan seperti di Versi 2, boleh juga sebagai tambahan.
Resep Lengkap Meredam Marah ala Nabi ﷺ
Nggak cuma baca ta’awwudz, Nabi ﷺ juga membekali kita langkah fisik biar emosi cepat turun:
- Diam dan tahan lisan. Saat marah, kalimat apa pun yang keluar cenderung merusak.
- Ubah posisi tubuh. Kalau kamu marah sambil berdiri, segera duduk. Kalau duduk masih belum reda, berbaringlah (HR. Abu Dawud). Posisi yang lebih rendah bikin tubuh lebih tenang dan mencegah kita melakukan tindakan agresif.
- Ambil air wudhu. Membasuh wajah dan anggota tubuh dengan air dingin terbukti menenangkan saraf dan pikiran yang lagi panas.
- Ingat pesan singkat Nabi ﷺ: ketika seorang sahabat meminta nasihat, beliau hanya berpesan singkat namun diulang berkali-kali: “Laa taghdhab” – jangan marah! (HR. Bukhari no. 6116).
Tantangan Minggu Ini
Minggu ini, setiap kali ada hal yang memicu emosimu, entah di jalanan, di kantor, atau di rumah: tahan jempol dan mulutmu selama 5 detik. Tarik napas, ucapkan a’udzu billahi minasy-syaithanir-rajim, lalu duduklah. Rasakan betapa tenangnya menang melawan ego sendiri.
Artikel ini bagian dari seri Doa Harian Hidayah Harian. Baca juga: [Sayyidul Istighfar], [Doa Ketika Tertimpa Musibah], [Menjaga Lisan di Era Medsos].
Wallahu a’lam bish-shawab – Allah Mahatahu yang paling benar.