Pernah nggak kamu habis bantu teman atau sedekah, terus di dalam hati ada rasa kecewa kecil karena nggak ada yang bilang terima kasih atau nggak ada yang notice? Atau lagi shalat tahajud dan baca Al-Qur’an, tiba-tiba tangan gatal pengen memotret sajadah lalu di-upload ke story biar orang tahu kita lagi rajin ibadah?
Tenang, kamu nggak sendirian. Di zaman serba pamer ini, tantangan terberat seorang muslim bukan lagi sekadar melakukan amal kebaikan, melainkan menjaga amal itu tetap murni untuk Allah tanpa tercampur keinginan dilihat manusia. Itulah yang disebut ikhlas: seni beramal meski tanpa penonton.
Allah Hanya Melihat Hati dan Amalmu
Sering kali kita sibuk memoles tampilan luar ibadah kita supaya terlihat keren di mata manusia. Padahal manusia nggak punya surga, nggak memegang kunci rezeki, dan pujian mereka pun cepat menguap. Yang berhak menilai amal kita hanya Allah, dan kriteria penilaian-Nya tegas disampaikan oleh Rasulullah ﷺ:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Innallaaha laa yanzhuru ilaa shuwarikum wa amwaalikum, wa laakin yanzhuru ilaa quluubikum wa a'maalikum
Allah berfirman dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama…” Tanpa ikhlas, amal sebesar gunung pun bisa berubah menjadi debu yang beterbangan di hari kiamat karena salah alamat. Sebaliknya, dengan ikhlas, amal sekecil menyingkirkan duri di jalan bisa mengantar seseorang ke ampunan Allah.
Rahasia Amal Sembunyi-sembunyi
Salah satu cara paling ampuh untuk melatih keikhlasan adalah memiliki “khabi’ah”, yaitu amal rahasia yang hanya diketahui oleh kamu dan Allah saja. Dalam hadits terkenal tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat, Rasulullah ﷺ menyebut salah satunya adalah:
“Seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu ia menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1031)
Perumpamaan “tangan kiri tak tahu apa yang diberikan tangan kanan” menggambarkan betapa rapatnya ia menjaga rahasia kebaikannya. Ia nggak butuh kamera, nggak butuh pengakuan di grup WA, dan nggak peduli apakah manusia memujinya atau mencelanya. Baginya, cukup Allah yang tahu, karena Allah tidak pernah salah mencatat.
Cara Mengenali Apakah Hati Kita Sudah Ikhlas
Para ulama memberikan tiga tolok ukur sederhana buat mengecek keikhlasan hati kita:
1. Sama semangatnya saat sendiri maupun ramai. Kalau shalat kita khusyuk saat dilihat orang tapi ngebut kayak kilat saat di kamar sendirian, berarti hati kita masih butuh diperbaiki.
2. Nggak gila pujian dan nggak tumbang karena celaan. Orang yang ikhlas tetap berbuat baik meskipun nggak ada yang bertepuk tangan.
3. Melupakan kebaikan yang sudah dilakukan. Seperti kita melupakan sampah yang sudah dibuang, lupakan jasa kita kepada orang lain agar kita tidak mengungkit-ungkitnya.
Tantangan Minggu Ini
Minggu ini, buatlah satu amal rahasia yang benar-benar tidak boleh diketahui siapa pun, bahkan pasangan, orang tua, atau sahabat terdekatmu. Bisa berupa transfer sedekah secara anonim, mendoakan teman diam-diam di sepertiga malam, atau membersihkan mushala saat sepi. Rasakan manisnya punya rahasia indah berdua saja dengan Allah.
Artikel ini bagian dari seri Renungan Hidayah Harian. Baca juga: [Menjaga Lisan di Era Medsos], [Kisah Uwais Al-Qarni], [Syukur di Tengah Kesulitan].
Wallahu a’lam bish-shawab – Allah Mahatahu yang paling benar.