Setiap bulan Ramadan tiba, ada satu kepanikan klasik yang hampir pernah dialami semua orang: ketiduran habis shalat Isya, bablas nggak bangun sahur, dan baru melek pas adzan Subuh sudah selesai berkumandang! Selain perut yang keroncongan, pikiran langsung panik: “Waduh, semalam aku belum baca niat puasa, sah nggak ya puasaku hari ini?”
Supaya kamu nggak bingung setiap kali ketemu situasi kayak gini, yuk kita bahas tuntas aturan waktu niat puasa Ramadan, lafaznya, serta perbedaan pendapat ulama tentangnya.
Kapan Waktu Niat Puasa Ramadan?
Untuk puasa wajib seperti puasa Ramadan (termasuk puasa qadha dan nazar), niat harus sudah terpasang di malam hari, terhitung sejak terbenam matahari (waktu Maghrib) sampai sebelum terbit fajar shadiq (waktu Subuh). Ini disebut tabyitun-niyyah. Dalilnya adalah hadits dari Ummul Mukminin Hafshah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
Man lam yubayyitish-shiyaama qablal-fajri falaa shiyaama lah
Jadi, kalau kamu sudah berniat di dalam hati saat selesai shalat Tarawih, atau saat menyiapkan alarm sahur sebelum tidur, itu sudah masuk waktu malam dan niatmu sudah sah!
Haruskah Diulang Setiap Malam atau Cukup Sekali Sebulan?
Nah, bagaimana kalau benar-benar lupa berniat di suatu malam? Di sinilah para ulama berbeda pendapat:
- Madzhab Maliki berpendapat bahwa niat puasa Ramadan cukup dilakukan sekali saja pada malam pertama untuk mencakup satu bulan penuh, karena seluruh bulan Ramadan dipandang sebagai satu kesatuan ibadah yang utuh.
- Mayoritas ulama (Madzhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali) berpendapat bahwa niat puasa Ramadan wajib diperbarui setiap malam untuk puasa keesokan harinya.
Kesimpulan, kita mengikuti madzhab Syafi’i: niat puasa Ramadan wajib dilakukan setiap malam sebelum waktu Subuh. Alasannya, setiap hari puasa di bulan Ramadan adalah ibadah mandiri yang terpisah satu sama lain (terbukti jika batal satu hari, hari lainnya tidak ikut batal), dan dalilnya adalah hadits Hafshah di atas yang mewajibkan tabyit (niat di malam hari) untuk setiap pelaksanaan puasa wajib. Sebagai langkah kehati-hatian (ihtiyath), para ulama Syafi’iyah menganjurkan kita untuk tetap berniat setiap malam sesuai madzhab Syafi’i, sambil berniat satu bulan penuh di malam pertama Ramadan untuk mengantisipasi jika suatu malam benar-benar lupa. Wallahu a’lam bish-shawab.
Lafaz Niat Puasa Ramadan
Ingat prinsip dasarnya: tempat niat itu di dalam hati. Namun, dalam madzhab Syafi’i, melafalkan niat dengan lisan hukumnya sunnah agar membantu kemantapan hati:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin 'an adaa-i fardhi syahri Ramadhaana haadzihis-sanati lillaahi ta'aalaa
Tips Praktis Biar Nggak Pernah Kelewat Niat
Biasakan memasang niat puasa langsung setelah selesai shalat Tarawih atau Witir setiap malam, dan hadirkan lagi niat itu di dalam hati saat kamu bangun makan sahur. Dengan begitu, kalaupun suatu malam kamu ketiduran sampai Subuh, puasamu tetap aman dan sah!
Artikel ini bagian dari seri Fiqih Ringan Hidayah Harian. Baca juga: [Wudhu yang Benar], [Tata Cara Mandi Junub], [Tayamum].
Wallahu a’lam bish-shawab – Allah Mahatahu yang paling benar.