Loncat ke konten utama

Kisah Uwais Al-Qarni: Tak Dikenal di Bumi, Terkenal di Langit

Ilustrasi kisah Uwais Al-Qarni

Di zaman media sosial ini, semua orang berlomba dikenal. Follower banyak, like banyak, viral, itu ukuran “sukses”. Tapi ada satu kisah dari zaman Nabi ﷺ yang membalik semua logika itu: seorang lelaki yang nggak dikenal siapa-siapa di bumi, tapi namanya harum di langit.

Namanya Uwais Al-Qarni. Bukan sahabat Nabi, beliau bahkan nggak pernah bertemu Rasulullah ﷺ. Tapi Nabi sendiri yang memuji dan mewasiatkan para sahabat untuk memintakan doa kepadanya.

Siapa Uwais?

Uwais bin Amir Al-Qarni berasal dari Qarn, Yaman. Hidupnya sederhana luar biasa: miskin, bekerja sebagai penggembala, dan tinggal bersama ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Beliau juga pernah menderita penyakit kulit (barash) yang kemudian sembuh, kecuali sebesar koin dirham.

Uwais hidup sezaman dengan Nabi ﷺ dan sangat ingin bertemu beliau. Tapi ibunya butuh dirawat setiap saat, nggak bisa ditinggal. Maka Uwais memilih merawat ibunya, dan mengubur dalam-dalam keinginannya bertemu Rasulullah. Pilihan yang berat, tapi itulah baktinya.

Wasiat Nabi ﷺ yang Mengejutkan

Suatu hari Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabatnya:

“Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan dari Yaman. Ia dahulu menderita penyakit belang lalu sembuh, kecuali sebesar dirham. Ia memiliki seorang ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, pasti Allah akan mengabulkannya. Jika engkau bisa memintanya agar memohonkan ampunan untukmu, maka lakukanlah.” (HR. Muslim no. 2542)

Bayangin: Nabi ﷺ, manusia paling mulia, menyuruh para sahabat senior seperti Umar bin Khattab untuk minta didoakan oleh seorang penggembala miskin dari Yaman yang nggak pernah mereka dengar namanya. Kenapa? Karena bakti Uwais kepada ibunya mengangkat derajatnya setinggi itu di sisi Allah.

Umar Mencari Uwais

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Umar bin Khattab tidak lupa wasiat itu. Setiap ada rombongan dari Yaman datang, Umar selalu bertanya: “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais?”

Sampai akhirnya, dalam sebuah rombongan, Umar menemukan ciri-cirinya satu per satu: dari Qarn? Punya ibu? Pernah sakit kulit? Semua cocok. Maka Umar, Amirul Mukminin, pemimpin kaum muslimin, meminta dengan rendah hati: “Mohonkanlah ampunan untukku kepada Allah.”

Uwais awalnya menolak, merasa tidak pantas. Tapi Umar mendesak, menyampaikan wasiat Nabi ﷺ.

Akhirnya Uwais mendoakannya. Setelah itu, ketika Umar menawarkan surat rekomendasi ke gubernur Kufah, Uwais menolak dengan halus: ia lebih suka hidup di tengah orang-orang miskin, tidak dikenal siapa-siapa.

Pelajaran yang Menampar

  • Bakti kepada orang tua itu “mata uang langit”. Uwais nggak punya harta, nggak punya jabatan, nggak punya followers. Tapi satu amal, merawat ibunya, membuatnya disebut Nabi ﷺ dan doanya mustajab.
  • Terkenal di langit lebih penting dari terkenal di bumi. Uwais sengaja memilih tidak dikenal. Di zaman kita yang haus validasi, ini tamparan keras.
  • Ridha orang tua = ridha Allah. Nabi ﷺ bersabda: “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)
  • Jangan remehkan orang biasa. Para sahabat disuruh minta doa ke penggembala miskin. Jangan-jangan, orang yang kita remehkan justru lebih mulia di sisi Allah.

Tantangan

Minggu ini, lakukan satu hal spesifik buat orang tuamu, terutama ibumu. Bukan yang besar-besar: pijitin kakinya, masakin makanan kesukaannya, atau sekadar duduk nemenin ngobrol tanpa main HP. Uwais jadi mulia karena merawat ibunya. Kita? Masih sempat, selagi mereka ada.


Wallahu a’lam bish-shawab, Allah Mahatahu yang paling benar.

Artikel ini bagian dari seri Kisah Hidayah Harian. Baca juga: [Kisah Nabi Yunus], [Kisah Ashabul Kahfi].

#Kisah
Bagikan: Facebook WhatsApp X Telegram

rosid ✓

Penulis artikel di Hidayah Harian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cari artikel

Tampilan

Mode tampilan
Warna tema

Daftar Bacaan

Belum ada bacaan yang Anda simpan.

Menu Navigasi