Pernahkah kamu punya teman yang selalu ada di saat kamu senang, tapi mendadak lenyap begitu masalah datang? Menemukan orang yang mau diajak bersenang-senang tentu sangat mudah, tapi menemukan sahabat yang siap pasang badan saat kita dihujat dan dijatuhkan, berapa banyak yang bisa kita temukan hari ini?
Jika kamu mencari standar tertinggi tentang makna kesetiaan dan persahabatan sejati, tataplah sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau bukan sekadar sahabat biasa bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah orang pertama dari kalangan lelaki dewasa yang membenarkan risalah Islam tanpa ragu sedikit pun, merelakan seluruh hartanya untuk dakwah, dan menjadi perisai hidup bagi keselamatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Pasang Badan Saat Rasulullah Dicekik di Depan Ka’bah
Salah satu bukti keberanian luar biasa Abu Bakar terjadi pada fase awal dakwah di Mekkah. Kaum musyrik Quraisy tidak henti-hentinya menindas kaum muslimin dan berusaha menghentikan dakwah Nabi dengan segala cara. Suatu hari, kebencian itu memuncak menjadi aksi kekerasan fisik yang amat brutal.
Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya mengenai perlakuan paling kejam yang pernah dilakukan kaum musyrik terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menceritakan sebuah peristiwa mencekam ketika Uqbah bin Abi Mu’ith nekat menyerang Nabi yang sedang sujud di dekat Ka’bah:
رَأَيْتُ عُقْبَةَ بْنَ أَبِي مُعَيْطٍ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي، فَوَضَعَ رِدَاءَهُ فِي عُنُقِهِ فَخَنَقَهُ بِهِ خَنْقًا شَدِيدًا، فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَفَعَهُ عَنْهُ فَقَالَ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ
Ra'aitu 'Uqbata bna Abii Mu'aithin jaa'a ilan-nabiyyi shallallahu 'alaihi wasallam wa huwa yushallii, fawadha'a ridaa'ahu fii 'unuqihii fakhanagahu bihii khanqan syadiidaa, fajaa'a Abu Bakrin hattaa dafa'ahu 'anhu faqaala ataqtuluuna rajulan an yaquula Rabbiyallaahu wa qad jaa'akum bil-bayyinaati min Rabbikum
Perkataan Abu Bakar tersebut mengutip firman Allah dalam Al-Quran: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, ‘Tuhanku ialah Allah’, padahal sungguh dia telah datang kepadamu membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu?” (QS. Ghafir: 28). Abu Bakar tidak memedulikan keselamatan dirinya sendiri, asalkan Rasulullah terlindungi.
Kedudukan Istimewa di Sisi Nabi
Kesetiaan Abu Bakar terukir indah di setiap lembar sejarah perjuangan Islam. Ketika perintah hijrah turun, Abu Bakar terpilih menjadi satu-satunya sahabat yang mendampingi Nabi menembus bahaya gurun dan bersembunyi di Gua Tsur dari kejaran musuh. Bahkan menjelang wafatnya Nabi, saat beliau terbaring sakit dan tidak mampu mengimami shalat di masjid, hanya Abu Bakar yang ditunjuk langsung oleh beliau untuk mengimami kaum muslimin.
Dalam sebuah khutbah di penghujung hayatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan pengakuan tulus tentang betapa agungnya kedudukan sahabat tercintanya ini:
إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُو بَكْرٍ، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا غَيْرَ رَبِّي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ، وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الْإِسْلَامِ وَمَوَدَّتُهُ
Inna amannan-naasi 'alayya fii shuhbatihii wa maalihii Abu Bakr, walau kuntu muttakhidzan khaliilan ghaira Rabbii lattakhadztu Aba Bakrin, walakin ukhuwwatul-islaami wa mawaddatuh
Hikmah Besar dari Keteladanan Abu Bakar
Kisah mulia Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan banyak teladan abadi bagi kita:
- Persahabatan sejati dibangun di atas pondasi iman dan takwa, bukan sekadar kepentingan duniawi atau keuntungan materi semata.
- Membela kebenaran membutuhkan keberanian nyata, bahkan saat harus mengorbankan kenyamanan fisik maupun harta benda.
- Pengorbanan tulus di jalan Allah akan membuahkan cinta yang abadi di dunia dan kemuliaan tertinggi di akhirat kelak.
Tantangan Praktis Pekan Ini
Sekarang, coba renungkan sejenak: sudahkah kita menjadi sahabat yang baik bagi orang-orang terdekat kita? Yuk, kita latih diri meneladani akhlak Abu Bakar lewat dua langkah sederhana ini:
- Berani membela nama baik sahabatmu ketika ada yang membicarakannya dari belakang, sebagaimana Abu Bakar pasang badan membela Rasulullah.
- Dukung kebaikan dan hijrah sahabatmu secara tulus, baik dengan bantuan tenaga, kata-kata penyemangat, maupun selipan doa di sepertiga malam terakhir.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita sahabat-sahabat shalih yang saling menguatkan dalam ketaatan, serta mempertemukan kita kembali di surga-Nya kelak.
Wallahu a’lam bish-shawab, Allah Mahatahu yang paling benar.