Loncat ke konten utama

Menjaga Lisan di Era Medsos: Jempolmu, Tanggung Jawabmu

Ilustrasi menjaga lisan di era media sosial

Zaman dulu, menjaga lisan artinya menjaga mulut: jangan ngomongin orang, jangan bohong, jangan ngomel. Zaman sekarang? “Lisan” kita pindah ke jempol. Komentar, reply, quote tweet, story, grup WA, semua itu lisan dalam bentuk baru.

Dan jujur aja: jempol ini seringkali lebih liar dari mulut. Kalau ngomong langsung, kita masih lihat ekspresi lawan bicara. Tapi di medsos? Kita ngetik sambil rebahan, nggak lihat wajah siapa-siapa, dan send, dalam sedetik kata-kata itu menyebar ke ratusan orang.

Padahal aturannya sama persis. Nabi ﷺ bersabda:

Hadits

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Man kaana yu'minu billaahi wal-yaumil-aakhir, falyaqul khairan au liyashmut

“Berkata” di sini mencakup menulis. Setiap ketikanmu di medsos masuk dalam hadits ini: kalau nggak baik, mending diam, alias jangan diposting.

Setiap Huruf Dicatat

Allah berfirman:

“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)

Bayangin: setiap komentar nyinyir, setiap reply emosional, setiap ghibah di grup WA, ada malaikat yang mencatat. Bukan cuma “jejak digital” yang bisa di-screenshot orang, tapi “jejak langit” yang nggak bisa dihapus pakai fitur delete for everyone.

Jaminan Surga Buat yang Menjaga Lisan

Kabar baiknya, ganjarannya juga besar. Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa bisa memberikan jaminan kepadaku untuk menjaga apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), maka aku berikan jaminan surga kepadanya.” (HR. Bukhari no. 6474)

Menjaga lisan disejajarkan dengan menjaga kehormatan, dan hadiahnya surga. Ini menunjukkan betapa seriusnya perkara lisan di sisi Allah. Imam Syafi’i rahimahullah sampai berpesan: kalau mau bicara, pikir dulu. Kalau ragu-ragu, diam lebih selamat.

Praktiknya di Medsos Gimana?

Nggak usah teori muluk-muluk. Ini checklist praktis sebelum kamu posting/komentar:

1. Tanya: ini bener nggak? Hoaks itu dosa jariyah kalau disebar. Cek dulu sebelum share.

2. Tanya: ini perlu nggak? Nggak semua yang benar perlu diomongin. Ghibah itu menceritakan keburukan orang lain yang benar adanya, tetap dosa.

3. Tanya: niatku apa? Mau nasehatin atau mau nyinyir? Mau diskusi atau mau menang debat? Niat menentukan nilai.

4. Tanya: berani nggak ngomong ini depan orangnya langsung? Kalau cuma berani di balik layar, itu tanda hatinya bermasalah.

5. Aturan 10 detik: sebelum tekan send untuk sesuatu yang emosional, taruh HP 10 detik. Masih pengen kirim? Pikirkan sekali lagi.

Diam Bukan Kalah

Di medsos, diam sering dianggap kalah debat atau nggak punya pendirian. Padahal dalam Islam, diam dari kebatilan itu kemenangan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: tidak ada kebaikan dalam diam dari ilmu, sebagaimana tidak ada kebaikan dalam bicara yang batil.

Jadi ukurannya bukan “berani ngomong atau nggak”, tapi “omonganku ini haq atau batil”. Kalau haq dan perlu, sampaikan dengan adab. Kalau ragu, diam. Sesederhana itu.

Renungan Penutup

Jempolmu akan bersaksi di hari kiamat, entah membelamu atau memberatkanmu. Setiap hari kita dikasih ratusan kesempatan “berkata” lewat layar kecil ini. Pertanyaannya: berapa banyak yang jadi pahala, dan berapa banyak yang jadi dosa?

Mulai hari ini, jadikan hadits “berkata baik atau diam” sebagai filter setiap ketikanmu. Medsosmu bisa jadi ladang pahala, atau ladang dosa. Kamu yang pilih.


Wallahu a’lam bish-shawab, Allah Mahatahu yang paling benar.

Artikel ini bagian dari seri Renungan Hidayah Harian. Baca juga: [Sabar Itu Bukan Diam], [Waktu: Modal yang Tak Pernah Kembali].

#Renungan
Bagikan: Facebook WhatsApp X Telegram

rosid ✓

Penulis artikel di Hidayah Harian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cari artikel

Tampilan

Mode tampilan
Warna tema

Daftar Bacaan

Belum ada bacaan yang Anda simpan.

Menu Navigasi